https: img.okezone.com content 2020 11 16 320 2310161 kasus-investasi-bodong-dan-gagal-bayar-uang-nasabah-hilang-triliunan-rupiah-7am6KJ1yEt.jpg

JAKARTA – Belum lagi kasus nasabah PT Bank Maybank Indonesia Tbk atau Maybank yang kehilangan dana Rp 20 miliar, kini muncul lagi problem gagal bayar investasi di Indonesia. Kali ini kasus tersebut menimpa seorang pelanggan PT Indosterling Optima Investa (IOI).

Kasus ini adalah default untuk produk Indosterling High Yield Promissory Notes (HYPN). Produk investasi ini menjanjikan return sebesar 9% hingga 12% setiap tahunnya.

Baca Juga: Bos OJK: Lindungi Masyarakat dari Investasi Idle

Pengacara sejumlah nasabah IOI berinisial A mengatakan PT IOI menggalang dana dari 2018-2019 dengan menjual produk High Yiel Promisory Note dengan bunga berkisar 9% -12%.

“Tapi pada April 2020, mereka mulai lalai membayar,” ujarnya saat dihubungi di Jakarta, Senin (16/11/2010).

Nasabah baru mengetahui produknya tidak memiliki izin penggalangan dana dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia. Padahal dalam perjanjian pasal 6 huruf e disebutkan.

"Mereka memiliki semua jenis izin yang dibutuhkan, termasuk dari lembaga keuangan," ujarnya.

Pengacara dari Eternity Global Lawfirm Law Office ini membawahi 58 nasabah IOI dengan total kepemilikan dana pada produk investasi HYPN sebesar Rp 95 miliar.

“Makanya berdasarkan itu, melalui kami, 58 nasabah dengan kerugian mencapai Rp95 miliar,” ujarnya.

Namun secara total, ada sekitar 1.800 nasabah yang terdaftar di PKPU Indosterling. Total tagihan produk HYPN Indosterling pada PKPU mencapai Rp1,99 triliun.

Beberapa waktu sebelumnya, persoalan Indosterling sebenarnya sudah diselesaikan dengan penetapan homologasi permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU). Homologasi telah dilaksanakan sejak 2 September 2020 di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here